Hakikat
Konseling dengan Teori Eksistensial Humanistik
Untuk
melakukan konseling dengan teknik pendekatan eksistensial humanistik maka
sangat perlu untuk mengetahui hakikat konseling yang dimaksudkan dalam teori
ini. Yakni dalam proses konseling, konselor membantu menimbulkan pemahaman
dalam individu konseli untuk menjadi pribadi yang utuh dan menempati taraf
tertinggi. Dalam teori ini hal tersebut banyak disebut dengan istilah being.
Keadaan itu bisa diindikasikan dengan hal-hal berikut:
a. Individu sadar akan hakikat keberadaan
dirinya dalam berbagai situasi kehidupan dan sadar akan potensi yang dimilikinya.
b. Individu bebas dan bertanggung
jawab dalam menentukan keputusan.
c. Individu memahami makna di balik
pengalaman yang diterimanya.
d. Individu tidak ragu dalam
mengaktualisasikan diri.
e. Individu berani menjalin hubungan
dengan lingkungan.
Pencarian
Makna
Dengan
berlandaskan pada teori eksistensial humanistik ini, pada hakikatnya konseling
menekankan renungan filosofis tentang eksistensi manusia. Selanjutnya upaya
pemikiran tersebut menghasilkan kesadaran akan makna yang sebenarnya. Begitu
juga dengan semua masalah yang terjadi, konseling mengupayakan untuk menelaah
dan menemukan makna dibalik masalah tersebut. Upaya itu bertujuan untuk
menemukan makna lain yang positif, sehingga manusia tidak larut terus menerus
dalam merasakan penderitaan dari masalah yang ada. Kemudian, makna positif
tersebut akan menjadi motivasi untuk menyelesaikan masalah. Sebagai contoh
perhatikan ilustrasi berikut.
Adit adalah
seorang karyawan di sebuah perusahaan. Dia baru bekerja di sana selama dua
minggu. Pada suatu hari, dia terlambat datang ke kantor. Melihat itu, atasannya
otomatis menegurnya dengan nada tinggi, “Pak Adit, gimana kamu ini ?
Karyawan baru sudah berani datang terlambat. Saya tak habis pikir, bagaimana
bisa kamu diterima di sini ? Mana komitmen kamu ? Kalau begini terus nanti saya
laporkan ke bos, supaya kamu dikeluarkan sekalian. Sudah sana mulai bekerja !”
Melihat
ilustrasi tersebut, sedikitnya teguran atasan Adit tentu akan menyakitkan hati.
Namun, jika Adit bisa menemukan makna dibalik teguran teresebut sebenarnya
bermaksud baik, yaitu menegakkan peraturan dan mendidik sikap disiplin, bukan
semata-mata menyakiti. Maka dengan
menemukan hakikat makna kejadian itu, Adit tidak perlu merasa sakit hati,
mara, dan dendam, melainkan seharusnya timbul kemajuan dari pribadinya.
Klien Bebas
dan Bertanggung Jawab atas Keputusannya
Unsur
humanistik pada teori ini, menjadikan konseling menggunakan pendekatan yang
berpusat pada klien. Klien dengan sifat dasar manusia memiliki kebebasan yang
tidak boleh diganggu. Kebebasan tersebut tentunya diimbangi dengan tanggung
jawab dari dirinya sendiri. Kebebasan ini berlaku jika keputusan yang dibuat
tidak bertantangan dengan nilai universal dan norma yang berlaku. Andaikan
bertentangan, maka konselor berhak untuk memberikan pemahaman baru yang lebih
tepat. Karena, bisa jadi keputusan konseli yang tidak tepat merupakan
pengetahuan dan pemahamannya sementara ini. Maka dari itu, konselor harus
mengganti pemahaman yang salah tesebut. Ikuti ilustrasi berikut.
Sepulangnya
dari acara wisuda sarjananya, Tito berkata, “Mah, Pah, kuliah Tito sudah
selesai, ijazah sudah saya simpan dengan baik, sekarang Tito mau fokus di
musik, Tito mau mewujudkan cita-cita menjadi musisi dan komposer.” Terkejut
mendengar pernyataan tersebut, Ibu dan Ayah Tito sama-sama dibuatnya tidak bisa
berkomentar dan tidak habis pikir. Bagaimana tidak, 4 tahun kuliah teknik di
kampus ternama, lantas ingin menjadi musisi.
Keputusan yang
dibuat Tito memang mengejutkan. Namun, hal itu mash berada dalam koridor yang
baik. Tak heran jika kedua orang tua Tito bingung untuk meresponnya. Namun,
selagi keputusan itu baik, kedua orang tua Tito sebaiknya mendukungnya dengan
sepenuh hati. Begitu juga dengan Tito harus bertanggung jawab atas
keputusannya, bersungguh-sungguh dalam mewujudkan cita-citanya dan tidak
mengecewakan orang tuanya.
Fokus pada
Keadaan Saat Ini
Konseling
dilakukan dengan berfokus pada apa yang terjadi pada konseli saat ini. Dengan
menggunakan pengalaman sadar, proses konseling berusaha menemukan solusi dari
masalah yang ada. Konselor tidak mengeksplorasi alam bawah sadar konseli secara
formal, melainkan tetap menjaga keadaan pikiran konseli di keadaan gelombang
sadar. Selain itu, konseling tidak berupaya melakukan regresi dan memanipulasi
kejadian di masa lalu. Kejadian masa lalu hanya digunakan sebatas untuk
identifikasi masalah.
Prinsip ini
berbeda dengan teknik hipnosis dalam psikoanalisa yang mengeksplorasi alam
bawah sadar konseli dan melakukan regresi dan memanipulasi kejadian traumatik
di masa lalu. Namun, hal ini bukan berarti bahwa eksistensial humanistik tidak
mengakui efek dari kejadian masa lalu terhadap masa sekarang. Melainkan pada
prinsip ini teknik yang digunakan tidak seperti pada psikoanalisa dengan
mengeksplorasi alam bawah sadar secara formal dan melakukan terapi regresi.
Situasi
Hubungan dalam Konseling
Pada umumnya
tidak berbeda dengan teori mana pun, seorang konselor harus memiliki modal
berupa karakter yang memenuhi kualifikasi profesi konseling. Selanjutnya
konselor mengupayakan terbangunnya hubungan baik antara dirinya dan konseli
selama proses konseling. Pasalnya keadaan ini bisa menjadi stimulus terjadinya
situasi terapeutik dan terjadinya perubahan positif. Hubungan seperti itu bisa
terbentuk dengan kejujuran, integritas, keberanian, empati, dan rasa saling
menghormati, dan sebagainya. Dengan sikap-sikap tersebut diharapkan terbentuk
keakraban antar individu dalam konseling.
Media
Konseling
Konseling
sebaiknya tidak berjalan monoton dan terpaku pada teknik tertentu. Kreatifitas
seorang konselor dalam hal ini sangatlah diharapkan untuk menunjang efektifitas
konseling. Dengan bermodalkan media yang memungkinkan, konselor bisa merancag
strategi yang tepat untuk melakukan konseling, baik konseling individu maupun
kelompok. Dalam keilmuan konseling pun sebenarnya telah dikenal pendekatan
eklektik. Sebuah teknik pendekatan yang mengkolaborasikan beberapa teknik untuk
disesuaikan dengan situasi yang sedang dihadapi. Pasalnya, masalah dan situasi
di lapangan senantiasa dinamis dan tidak monoton. Teknik seperti ini dalam
istilah lain disebut juga dengan Creatuve Synthesis Analytic.
Konselor perlu
menyadari pentingnya media sebagai perantara bagi solusi dan pesan dalam
konseling. Pesan dan solusi yang selama ini dikemas dalam bentuk nasihat
direktif bisa dikemas dengan menggunakan media yang memungkinkan dan lebih
menarik. Misalnya berupa dialog, simulasi permainan, biblioterapi, dan lain
sebagainya sesuai dengan kreatifitas konselor. Asalkan inti dari proses
konseling yaitu membantu konseli dalam menyelesaikan masalahnya bisa sampai
terasa efektif.
Di tengah
masyarakat pun sekarang sedang berkembang teknik terapi yang mengandung unsur
eksistensial humanistik. Di mulai dengan logoterapi milik Viktor Emile Frankl,
salah seorang tokoh dalam eksistensial humanistik, dalam metodenya itu membantu
individu untuk menemukan makna dibalik penderitaan yang terjadi. Lalu ada
teknik EFT atau SEFT yang juga mengadopsi asumsi yang dikembangkan oleh
pendahulunya Viktor Frankl, namun yang ini dikemas lagi dalam bentuk yang
berbeda dengan mengkolaborasikan unsur medis, psikologis, dan spiritual. Dan
dari Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi sendiri lahir terapi shalat bahagia
sebagai buah karya dari Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag salah seorang guru besar
di kampus tersebut. Metode ini menggunakan media shalat sebagai upaya
membangkitkan kesadaran dan kepasrahan seorang individu sebagai hamba Tuhan,
sehingga mendapatkan kebahagiaan dalam hati hingga solusi dari masalah yang
sedang terjadi. Dalam upaya preventif, seorang konselor bisa mengadakan
penyuluhan yang dikemas dalam bentuk training motivasi yang biasanya menyajikan
materi dan suasana yang menarik.
Pada intinya
konselor dituntut untuk mengembangkan kreatiitasnya dalam menjalankan konseling
dengan cara mengembangkan teknik den metode yang lebih efekif dan persuasif.
Tentuya hal ini sangat diperlukan jam terbang untuk melatih konselor dalam
menjalankan tugas profesionalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar