Sabtu, 21 Desember 2013

Bunuh Diri Selalu Jadi Opsi, Tapi . . .


Ilustrasi Aksi Bunuh Diri

Ilustrasi gambar di samping tentu bukan lagi hal yang tabu. Bahkan bisa tergolong hal yang biasa dan masih banyak lagi bentuk lain dari fenomena ini. Ya, dalam artikel ini akan membahas tentang fenomena bunuh diri beserta pemecahan masalahnya.
Kehidupan manusia diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Kehidupan dan kematian adalah dua sisi mata uang yang akan selalu berdampingan. Bagi sebagian orang, kehidupan merupakan
sebuah anugerah yang mesti disyukuri. Sebaliknya ada juga orang yang menganggap kehidupan sebagai penderitaan yang membuat dirinya beitu tidak berarti dan membelenggu dirinya. Sehingga dari asumsi seperti ini muncullah fenomena bunuh diri.
Bunuh diri merupakan suatu anomali sosial yang dapat membawa kita kepada pemahaman tentang keberadaan manusia di dunia semesta. Keputusan untuk mengakhiri hidup erat kaitannya dengan  sikap kecenderungan untuk mati (oleh Sigmund Freud disebut sebagai insting mati dan oleh Albert Camus disebut bunuh diri eksistensial) sebagai pilihan dalam merespon keadaan yang membuat kehidupan dirasa tidak berarti dan tidak berguna. Fenomena ini tentunya harus sangat diperhatikan dan diberikan solusi mengingat akan hakikat eksistensi manusia dalam kehidupan.
Pada umumnya keputusan bunuh diri adalah akibat dari keputusasaan. Keputusasaan tersebut menghilangkan kontrol positif individu atas dirinya. Pelaku menganggap bahwa dengan bunuh diri maka masalah selesai begitu saja. Padahal kenyataannya tidak sepicik itu. Bagi pemeluk agama tauhid tentunya meyakini kehidupan setelah kematian yang berisi pembalasan atas apa yang telah dilakukan semasa hidup.
Mengingat bahwa setiap individu pasti mengalami kematian dan memiliki kemungkinan untuk melakukan tindakan bunuh diri, maka semuanya mesti membekali diri dengan nilai-nilai positif untuk bisa mengendalikan diri dalam alur positif ketika menyikapi problem. Upaya ini bisa dilakukan dalam ranah pendidikan baik di lingkungan keluarga maupun lingkungan akademik, dalam keadaan formal maupun nonformal.
Untuk upaya preventif bagi individu yang hendak melakukan tindakan ini tentunya diawali dengan upaya pencegahan untuk tidak melakukannya. Setelah itu dianjurkan bagi orang-orang sekitar terutama orang tedekat atau pihak yang terpercaya untuk melakukan konseling. Proses bisa dilakukan dengan pendekatan direktif rasional emotif. Teknik ini bermaksud membantu memberikan pemahaman dan membangkitkan kesadaran untuk tidak melakukan hal seperti itu dan memberikan rangsangan agar memunculkan sikap positif dalam merespon problem kehidupan. Selanjutnya, konseli model ini bisa tergolong dalam kondisi krisis secara psikologis, maka diharapkan keaktifan konselor yang mendominasi pada awal konseling. Selanjutnya konseling bisa dibuat lebih fleksibel sesuai keadaan yang terjadi. Proses konseling perlu dilakukan secara intensif hingga dipastikan konseli benar-benar bisa dipastikan tidak akan melakukan perbuatan terlarang itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar