![]() |
| Ilustrasi Aksi Bunuh Diri |
Ilustrasi
gambar di samping tentu bukan lagi hal yang tabu. Bahkan bisa tergolong hal
yang biasa dan masih banyak lagi bentuk lain dari fenomena ini. Ya, dalam
artikel ini akan membahas tentang fenomena bunuh diri beserta pemecahan
masalahnya.
Kehidupan
manusia diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Kehidupan dan
kematian adalah dua sisi mata uang yang akan selalu berdampingan. Bagi sebagian
orang, kehidupan merupakan
sebuah anugerah yang mesti disyukuri. Sebaliknya ada juga orang yang menganggap kehidupan sebagai penderitaan yang membuat dirinya beitu tidak berarti dan membelenggu dirinya. Sehingga dari asumsi seperti ini muncullah fenomena bunuh diri.
sebuah anugerah yang mesti disyukuri. Sebaliknya ada juga orang yang menganggap kehidupan sebagai penderitaan yang membuat dirinya beitu tidak berarti dan membelenggu dirinya. Sehingga dari asumsi seperti ini muncullah fenomena bunuh diri.
Bunuh
diri merupakan suatu anomali sosial yang dapat membawa kita kepada pemahaman
tentang keberadaan manusia di dunia semesta. Keputusan untuk mengakhiri hidup
erat kaitannya dengan sikap kecenderungan
untuk mati (oleh Sigmund Freud disebut sebagai insting mati dan oleh Albert
Camus disebut bunuh diri eksistensial) sebagai pilihan dalam merespon keadaan
yang membuat kehidupan dirasa tidak berarti dan tidak berguna. Fenomena ini
tentunya harus sangat diperhatikan dan diberikan solusi mengingat akan hakikat
eksistensi manusia dalam kehidupan.
Pada
umumnya keputusan bunuh diri adalah akibat dari keputusasaan. Keputusasaan
tersebut menghilangkan kontrol positif individu atas dirinya. Pelaku menganggap
bahwa dengan bunuh diri maka masalah selesai begitu saja. Padahal kenyataannya
tidak sepicik itu. Bagi pemeluk agama tauhid tentunya meyakini kehidupan
setelah kematian yang berisi pembalasan atas apa yang telah dilakukan semasa
hidup.
Mengingat
bahwa setiap individu pasti mengalami kematian dan memiliki kemungkinan untuk
melakukan tindakan bunuh diri, maka semuanya mesti membekali diri dengan
nilai-nilai positif untuk bisa mengendalikan diri dalam alur positif ketika
menyikapi problem. Upaya ini bisa dilakukan dalam ranah pendidikan baik di
lingkungan keluarga maupun lingkungan akademik, dalam keadaan formal maupun
nonformal.
Untuk upaya preventif bagi individu
yang hendak melakukan tindakan ini tentunya diawali dengan upaya pencegahan
untuk tidak melakukannya. Setelah itu dianjurkan bagi orang-orang sekitar
terutama orang tedekat atau pihak yang terpercaya untuk melakukan konseling.
Proses bisa dilakukan dengan pendekatan direktif rasional emotif. Teknik ini
bermaksud membantu memberikan pemahaman dan membangkitkan kesadaran untuk tidak
melakukan hal seperti itu dan memberikan rangsangan agar memunculkan sikap
positif dalam merespon problem kehidupan. Selanjutnya, konseli model ini bisa
tergolong dalam kondisi krisis secara psikologis, maka diharapkan keaktifan
konselor yang mendominasi pada awal konseling. Selanjutnya konseling bisa
dibuat lebih fleksibel sesuai keadaan yang terjadi. Proses konseling perlu
dilakukan secara intensif hingga dipastikan konseli benar-benar bisa dipastikan
tidak akan melakukan perbuatan terlarang itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar