Sebagai
makhluk hidup manusia tentunya mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Keadaan
tersebut diindikasikan dengan berbagai tanda perubahan baik fisik maupun
psikis. Para ahli merumuskan periodesasi pertumbuhan dan perkembangan manusia bermacam-macam,
salah satu di antaranya adalah yang diuraikan oleh Elisabeth B. Hurlock dalam
bukunya Developmental Psychology bahwa manusia tumbuh berkembang melalui
tahapan; (1) Pranatal, (2) Masa natal, (3) Masa remaja, (4) Masa dewasa.
Masa Pranatal adalah masa manusia sebelum lahir saat berada di kandungan ibunya. Masa natal terbagi ke dalam 3 bagian; (a) Infacy/neonates, yaitu sejak lahir sampai dengan 14 hari, (b) Masa bayi, yaitu antara 2 minggu sampai 2 tahun, (3) Masa anak, yaitu antara 2 sampai 10 / 11 tahun. Masa remaja yaitu usia antara 11/12 sampai dengan 20/21 tahun. Fase ini juga dibagi ke dalam 3 tahap, yaitu pra remaja, remaja awal, dan remaja lanjut. Lalu fase masa dewasa yang dibagi ke dalam 2 fase, yaitu dewasa awal dan dewasa menengah.[1]
Setelah
mengetahui sekilas tentang konsep periodesasi pertumbuhan dan perkembangan
manusia tersebut, selanjutnya pembahasan ini akan membawa anda terfokus pada
salah satu periode yaitu masa remaja. Pembahasan ini akan memaparkan sekelumit
problematika psikologis yang kerap dialami para remaja. Selanjutnya, akan dihadapkan
pada solusi praktis dan Islami yang telah direkomendasikan oleh Sang teladan
Rasulullah Muhammad saw melalui haditsnya yang berupa perkataan, perbuatan,
maupun konsensusnya.
Berkenalan
Dengan Remaja
Sebagaimana
dipaparkan di atas bahwa usia remaja berkisar antara 11-21 tahun. Dalam hal
fisik remaja mengalami percepatan pertumbuhan fisik. Pertumbuhan tersebut kian
lama menunjukkan terbentuknya remaja laki-laki dengan bentuknya yang khas dan
begitu juga yang dialami oleh perempuan. Pertumbuhan tersebut senantiasa
diiringi dengan perkembangan psikoseksual. Baik pada laki-laki maupun perempuan
mulai timbul rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Selanjutnya, keadaan ini akan
menuntun pergaulan remaja ke dunia yang lebih luas. Selain itu, pada sektor
kognisi remaja juga mengalami perkembangan. Kognisi di dalamnya mencakup segala
hal yang berkenaan dengan proses mental, berfikir, dan inteligensi.
Dalam psikologi
Islam periodesasi masa remaja disebut dengan amrad, yaitu fase persiapan
bagi manusia untuk melakukan peran sebagai khalifah Allah di bumi. Adanya
kesadaran akan tanggung jawab terhadap sesama makhluk meneguhkan pengabdiannya
kepada Allah melalui aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Pada masa ini
ditandai dengan kemampuan dalam memahami beban taklif, terutama menyangkut
dasar-dasar agama, kewajiban, dan prosedur pelaksanaannya.[2]
Problematika
Kaum Remaja
Setiap makhluk
pastinya memiliki masalah dalam hidupnya, terlebih lagi makhluk sedinamis
manusia terutama kaum remaja. Berikut ini adalah beberapa problem yang kerap
hinggap pada semua orang, yang tidak jarang jika problem tersebut jatuh pada
para remaja, mereka justru salah kaprah dalam menyikapinya. Maka dari itu
problem berikut disertai dengan solusi yang diberikan oleh Rasulullah saw.[3] :
1.
Rasa Sedih dan Gundah
Tak sedikit
rasa sedih membawa remaja kepada rasa putus asa. Selanjutnya, tanpa kontrol
jiwa yang memadai mereka bisa saja melakukan tindakan yang tidak diinginkan.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya meriwayatkan dari Sa’id al
Khudri bahwa ia menceritakan, “Rasulullah saw suatu hari masuk masjid.
Tiba-tiba melihat seorang laki-laki Anshar, dia adalah Abu Umamah. Beliau
berkata, “Hai Abu Umamah, mengapa kulihat engkau berada di masjid di luar waktu
shalat ?” Abu Umamah menjawab, “Aku sedih karena banyak hutang wahai Rasulullah
!” Rasulullah bersabda, “Maukah engkau aku ajarkan kata-kata yang jika engkau
mengucapkannya niscaya Allah akan menghilangkan kesedihanmu dan menyelesaikan
hutangmu ?” Abu Umamah menjawab, “Ucapkanlah di waktu pagi dan petang!:
اللهم إني أعوذبك من الهم والحزن
وأعوذبك من العجز والكسل وأعوذبك من الجبن و البخل و أعوذ بك من غلبة الدين و قهر
الرجال
“Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas. Aku berlindung
kepada-Mu dari pengecut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang
dan kedzaliman orang lain.”
Imam Ahmad ibn Hambal juga meriwayatkan dalam Musnadnya,
“Sesungguhnya Rasulullah saw jika menghadapi suatu masalah, beliau memohon
pertolongan melalui shalat. Karena Allah berfirman:
Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyu',” (Q.S. Al Baqarah: 45)
2.
Penyakit Asmara
Di masa remaja manusia akan
mengalami rasa asmara atau jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Namun seharusnya
rasa cinta tersebut tidaklah melebihi rasa cintanya kepada Allah swt. Sebagai
bukti cinta suci tersebut, maka jalan terbaik untuk menyikapi perasaan ini
adalah dengan mengontrolnya dari hawa nafsu yang bisa menjerumuskan pada hal
keji. Jika sudah mampu maka lakukanlah pernikahan sebagai bentuk ibadah kepada
Allah dan mengikuti sunnah Rasul saw. Dalam Shahihain diriwayatkan Ibnu
Mas’ud ra berkata, Rasululah saw bersabda :
“Wahai para
pemuda, siapa saja di antara kalian yang sudah mampu, hendaklah menikah. Namun,
siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu dapat
menjadi obat.”
3.
Amarah Yang Tidak Terkendali
Seseorang pada
usia remaja menjalani masa transisi dari masa kanak ke masa dewasa. Mereka
tidak disebut kanak-kanak juga tidak dewasa, sehingga terkadang belum bisa
optimal dalam menyikapi emosi dan dan hawa nafsu. Rasulullah membimbing kita
dalam menghadapi amarah sebagai mana haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Dzar
ra.:
إذا غضب أحدكم
و هو قائم فليجلس فإن ذهب عنه الغضب و إلا فليضطجع
“Jika salah seorang di antara kalian marah dan ia dalam posisi
berdiri maka hendaknya ia segera duduk, maka kemarahannya akan hilang. Namun,
jika kemarahan itu tidak reda, maka hendaknya ia berbaring.”
Dari ketiga
problem di atas, secara garis besar kita bisa simpulkan bagaimana Rasul
mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan cara meluapkannya kepada hal yang
lebih bermanfaat, seperti; berdo’a, shalat, dan ibadah lainnya (dalam contoh
yaitu menikah dan berwudlu). Demikianlah beberapa contoh bagaimana Rasulullah
Muhammad saw sang konselor memberikan solusi dari beberapa masalah hidup yang
pasti pernah dialami oleh manusia terutama kaum remaja yang sebenarnya masih
perlu bimbingan agar tidak terlalu lepas kendali, alih-alih tanpa kendali yang
kokoh, para generasi remaja akan terjerumus pada perbuatan buruk. Selain solusi
di atas, masih ada lagi pesan Rasul saw dalam membina karakter remaja agar
menjadi generasi penerus yang bisa berguna bagi bangsa, negara, dan agama.
Membina
Generasi Remaja Yang Unggul
Fase remaja
sebagai masa pertumbuhan dan perkembangan yang intens pada setiap makhluk hidup
maka dibutuhkan perhatian yang mendalam untuk membentuk pribadi remaja yang
baik. Berikut ini adalah anjuran agama melalui sunnah rasulullah saw dalam
membina anak dan remaja[4] :
1. Menciptakan rasa aman dengan cara
merawatnya dengan rasa kasih sayang, kelembutan, komunikasi dengan baik,
mencurahkan segala perhatian dan bimbingan. Sebagaimana Rasulullah saw sangat
menyayangi Hassan dan Husain.
Mengajarkan berbagai keterampilan, daya pikir, pengetahuan, dan kebudayaan. Sebagaimana Rasulullah saw pernah memperhatikan anak muslim supaya semuanya terdidik. Karena itu beliau pernah mengganti fidyah (denda/tebusan) bagi para tawanan Perang Badar dengan mengajar sepuluh orang muslim.
Membentuk kebugaran dan kesehatan jasmani melalui olahraga. Sebagimana diriwayatkan dari Salamah ibn al Akwa’ ra, ia berkata: “Rasulullah saw pernah menemui kaum yang telah masuk Islam, sementara mereka berdagang di pasar. Beliau berkata, “Memanahlah kalian wahai Bani Ismail karena moyangmu adalah pemanah. Panahlah dan aku bersama salah satu dari kelompok kalian.” Mereka menahan tangan dan mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami memanah sementara engkau ada di antara salah satu kelompok.” Beliau lalu berkata, ”Memanahlah dan aku ada di antara kalian semua.”
Mengajarkan berbagai keterampilan, daya pikir, pengetahuan, dan kebudayaan. Sebagaimana Rasulullah saw pernah memperhatikan anak muslim supaya semuanya terdidik. Karena itu beliau pernah mengganti fidyah (denda/tebusan) bagi para tawanan Perang Badar dengan mengajar sepuluh orang muslim.
Membentuk kebugaran dan kesehatan jasmani melalui olahraga. Sebagimana diriwayatkan dari Salamah ibn al Akwa’ ra, ia berkata: “Rasulullah saw pernah menemui kaum yang telah masuk Islam, sementara mereka berdagang di pasar. Beliau berkata, “Memanahlah kalian wahai Bani Ismail karena moyangmu adalah pemanah. Panahlah dan aku bersama salah satu dari kelompok kalian.” Mereka menahan tangan dan mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami memanah sementara engkau ada di antara salah satu kelompok.” Beliau lalu berkata, ”Memanahlah dan aku ada di antara kalian semua.”
4. Mengajari nilai etika dari hal yang
terkecil. Sebagaimana diriwayatkan dari mar ibn Abi Salamah, ia berkata bahwa
Nabi pernah bersabda;
قل الله و كل
بيمينك و كل مما يليك
“Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah
apa yang ada di dekatmu”
5.
Membiasakan ibadah dan
mengajarkannya akhlak.
يا غلام إني
معلمك كلمات إحفظ الله يحفظ الله تجده تهاهك و إذا سألت فلتسأل الله وإذاستعنت
فاستعن بالله واعلم إن الأمة لواجتمعواعلى أن ينفعوك لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه
الله لك ولواجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت
الأقلام و جفت الصحف
“Hai anak muda, sesungguhnya aku telah mengajarkanmu beberapa
kalimat. Ingatlah Allah swt, maka ia akan mengingatmu. Ingatlah Allah swt, maka
engkau akan mencapai maksudmu. Jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah
pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua orang berkumpul untuk menarik
keuntungan darimu, maka mereka tidak akan menarik keuntungan darimu kecuali
karena sesuatu yang telah ditlis oleh Allah kepadamu. Jika mereka berkumpul
untu membahayakanmu, maka mereka tida akan membahayakanmu kecuali karena
sesuatu yang tela ditulis oleh Allah atasmu. Segala beban itu akan dihilangkan
dan segala lembaran wahyu.”
6. Mengajari kontrol motivasi dan
emosi.
Semoga dengan
kiat-kiat yang dianjurkan oleh Rasulullah dalam haditsnya bisa menjadi metode
praktis dalam menanggulangi problematika remaja dan membimbingnya menjadi
generasi yangunggul, bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama.
Wallahu a’lam.
[1]
Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hal. 133
[2]
Wiji Hidayati, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Teras, 2008), hal. 142-145
[3]
Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Thibb An Nabawi, diterjemakan oleh, Abu Firly, Pengobatan
Nabi, (Bandung: Jabal, 2012), hal. 144 dan 194
[4]
Muhammad Utsman Najati, Psikologi Dalam Perspektif Hadits, (Jakarta:
Pustaka Al Husna Baru, 2004), hal. 257-261
makasi informasinya.... kreen konseling propetik.
BalasHapus