Minggu, 08 Desember 2013

Muhammad SAW Sang Konselor, Hadits Menjawab Problem Psikis Remaja


Sebagai makhluk hidup manusia tentunya mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Keadaan tersebut diindikasikan dengan berbagai tanda perubahan baik fisik maupun psikis. Para ahli merumuskan periodesasi pertumbuhan dan perkembangan manusia bermacam-macam, salah satu di antaranya adalah yang diuraikan oleh Elisabeth B. Hurlock dalam bukunya Developmental Psychology bahwa manusia tumbuh berkembang melalui tahapan; (1) Pranatal, (2) Masa natal, (3) Masa remaja, (4) Masa dewasa.

Masa Pranatal adalah masa manusia sebelum lahir saat berada di kandungan ibunya. Masa natal terbagi ke dalam 3 bagian; (a) Infacy/neonates, yaitu sejak lahir sampai dengan 14 hari, (b) Masa bayi, yaitu antara 2 minggu sampai 2 tahun, (3) Masa anak, yaitu antara 2 sampai 10 / 11 tahun. Masa remaja yaitu usia antara 11/12 sampai dengan 20/21 tahun. Fase ini juga dibagi ke dalam 3 tahap, yaitu pra remaja, remaja awal, dan remaja lanjut. Lalu fase masa dewasa yang dibagi ke dalam 2 fase, yaitu dewasa awal dan dewasa menengah.[1]
Setelah mengetahui sekilas tentang konsep periodesasi pertumbuhan dan perkembangan manusia tersebut, selanjutnya pembahasan ini akan membawa anda terfokus pada salah satu periode yaitu masa remaja. Pembahasan ini akan memaparkan sekelumit problematika psikologis yang kerap dialami para remaja. Selanjutnya, akan dihadapkan pada solusi praktis dan Islami yang telah direkomendasikan oleh Sang teladan Rasulullah Muhammad saw melalui haditsnya yang berupa perkataan, perbuatan, maupun konsensusnya.
Berkenalan Dengan Remaja
Sebagaimana dipaparkan di atas bahwa usia remaja berkisar antara 11-21 tahun. Dalam hal fisik remaja mengalami percepatan pertumbuhan fisik. Pertumbuhan tersebut kian lama menunjukkan terbentuknya remaja laki-laki dengan bentuknya yang khas dan begitu juga yang dialami oleh perempuan. Pertumbuhan tersebut senantiasa diiringi dengan perkembangan psikoseksual. Baik pada laki-laki maupun perempuan mulai timbul rasa ketertarikan kepada lawan jenis. Selanjutnya, keadaan ini akan menuntun pergaulan remaja ke dunia yang lebih luas. Selain itu, pada sektor kognisi remaja juga mengalami perkembangan. Kognisi di dalamnya mencakup segala hal yang berkenaan dengan proses mental, berfikir, dan inteligensi.
Dalam psikologi Islam periodesasi masa remaja disebut dengan amrad, yaitu fase persiapan bagi manusia untuk melakukan peran sebagai khalifah Allah di bumi. Adanya kesadaran akan tanggung jawab terhadap sesama makhluk meneguhkan pengabdiannya kepada Allah melalui aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Pada masa ini ditandai dengan kemampuan dalam memahami beban taklif, terutama menyangkut dasar-dasar agama, kewajiban, dan prosedur pelaksanaannya.[2]
Problematika Kaum Remaja
Setiap makhluk pastinya memiliki masalah dalam hidupnya, terlebih lagi makhluk sedinamis manusia terutama kaum remaja. Berikut ini adalah beberapa problem yang kerap hinggap pada semua orang, yang tidak jarang jika problem tersebut jatuh pada para remaja, mereka justru salah kaprah dalam menyikapinya. Maka dari itu problem berikut disertai dengan solusi yang diberikan oleh Rasulullah saw.[3] :
1.      Rasa Sedih dan Gundah
Tak sedikit rasa sedih membawa remaja kepada rasa putus asa. Selanjutnya, tanpa kontrol jiwa yang memadai mereka bisa saja melakukan tindakan yang tidak diinginkan. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya meriwayatkan dari Sa’id al Khudri bahwa ia menceritakan, “Rasulullah saw suatu hari masuk masjid. Tiba-tiba melihat seorang laki-laki Anshar, dia adalah Abu Umamah. Beliau berkata, “Hai Abu Umamah, mengapa kulihat engkau berada di masjid di luar waktu shalat ?” Abu Umamah menjawab, “Aku sedih karena banyak hutang wahai Rasulullah !” Rasulullah bersabda, “Maukah engkau aku ajarkan kata-kata yang jika engkau mengucapkannya niscaya Allah akan menghilangkan kesedihanmu dan menyelesaikan hutangmu ?” Abu Umamah menjawab, “Ucapkanlah di waktu pagi dan petang!:
 اللهم إني أعوذبك من الهم والحزن وأعوذبك من العجز والكسل وأعوذبك من الجبن و البخل و أعوذ بك من غلبة الدين و قهر الرجال
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari pengecut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan kedzaliman orang lain.” 
Imam Ahmad ibn Hambal juga meriwayatkan dalam Musnadnya, “Sesungguhnya Rasulullah saw jika menghadapi suatu masalah, beliau memohon pertolongan melalui shalat. Karena Allah berfirman:  
Artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',” (Q.S. Al Baqarah: 45)
2.      Penyakit Asmara
Di masa remaja manusia akan mengalami rasa asmara atau jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Namun seharusnya rasa cinta tersebut tidaklah melebihi rasa cintanya kepada Allah swt. Sebagai bukti cinta suci tersebut, maka jalan terbaik untuk menyikapi perasaan ini adalah dengan mengontrolnya dari hawa nafsu yang bisa menjerumuskan pada hal keji. Jika sudah mampu maka lakukanlah pernikahan sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan mengikuti sunnah Rasul saw. Dalam Shahihain diriwayatkan Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasululah saw bersabda :
“Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang sudah mampu, hendaklah menikah. Namun, siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu dapat menjadi obat.”
3.      Amarah Yang Tidak Terkendali
Seseorang pada usia remaja menjalani masa transisi dari masa kanak ke masa dewasa. Mereka tidak disebut kanak-kanak juga tidak dewasa, sehingga terkadang belum bisa optimal dalam menyikapi emosi dan dan hawa nafsu. Rasulullah membimbing kita dalam menghadapi amarah sebagai mana haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.:
إذا غضب أحدكم و هو قائم فليجلس فإن ذهب عنه الغضب و إلا فليضطجع
“Jika salah seorang di antara kalian marah dan ia dalam posisi berdiri maka hendaknya ia segera duduk, maka kemarahannya akan hilang. Namun, jika kemarahan itu tidak reda, maka hendaknya ia berbaring.”

Dari ketiga problem di atas, secara garis besar kita bisa simpulkan bagaimana Rasul mengatasi masalah tersebut, yaitu dengan cara meluapkannya kepada hal yang lebih bermanfaat, seperti; berdo’a, shalat, dan ibadah lainnya (dalam contoh yaitu menikah dan berwudlu). Demikianlah beberapa contoh bagaimana Rasulullah Muhammad saw sang konselor memberikan solusi dari beberapa masalah hidup yang pasti pernah dialami oleh manusia terutama kaum remaja yang sebenarnya masih perlu bimbingan agar tidak terlalu lepas kendali, alih-alih tanpa kendali yang kokoh, para generasi remaja akan terjerumus pada perbuatan buruk. Selain solusi di atas, masih ada lagi pesan Rasul saw dalam membina karakter remaja agar menjadi generasi penerus yang bisa berguna bagi bangsa, negara, dan agama.
Membina Generasi Remaja Yang Unggul
           Fase remaja sebagai masa pertumbuhan dan perkembangan yang intens pada setiap makhluk hidup maka dibutuhkan perhatian yang mendalam untuk membentuk pribadi remaja yang baik. Berikut ini adalah anjuran agama melalui sunnah rasulullah saw dalam membina anak  dan remaja[4] :
1.     Menciptakan rasa aman dengan cara merawatnya dengan rasa kasih sayang, kelembutan, komunikasi dengan baik, mencurahkan segala perhatian dan bimbingan. Sebagaimana Rasulullah saw sangat menyayangi Hassan dan Husain.
   Mengajarkan berbagai keterampilan, daya pikir, pengetahuan, dan kebudayaan. Sebagaimana Rasulullah saw pernah memperhatikan anak muslim supaya semuanya terdidik. Karena itu beliau pernah mengganti fidyah (denda/tebusan) bagi para tawanan Perang Badar dengan mengajar sepuluh orang muslim.
   Membentuk kebugaran dan kesehatan jasmani melalui olahraga. Sebagimana diriwayatkan dari Salamah ibn al Akwa’ ra, ia berkata: “Rasulullah saw pernah menemui kaum yang telah masuk Islam, sementara mereka berdagang di pasar. Beliau berkata, “Memanahlah kalian wahai Bani Ismail karena moyangmu adalah pemanah. Panahlah dan aku bersama salah satu dari kelompok kalian.” Mereka menahan tangan dan mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kami memanah sementara engkau ada di antara salah satu kelompok.” Beliau lalu berkata, ”Memanahlah dan aku ada di antara kalian semua.”
4.   Mengajari nilai etika dari hal yang terkecil. Sebagaimana diriwayatkan dari mar ibn Abi Salamah, ia berkata bahwa Nabi pernah bersabda;
قل الله و كل بيمينك و كل مما يليك
“Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah apa yang ada di dekatmu”
5.      Membiasakan ibadah dan mengajarkannya akhlak.
يا غلام إني معلمك كلمات إحفظ الله يحفظ الله تجده تهاهك و إذا سألت فلتسأل الله وإذاستعنت فاستعن بالله واعلم إن الأمة لواجتمعواعلى أن ينفعوك لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولواجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام و جفت الصحف
“Hai anak muda, sesungguhnya aku telah mengajarkanmu beberapa kalimat. Ingatlah Allah swt, maka ia akan mengingatmu. Ingatlah Allah swt, maka engkau akan mencapai maksudmu. Jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika semua orang berkumpul untuk menarik keuntungan darimu, maka mereka tidak akan menarik keuntungan darimu kecuali karena sesuatu yang telah ditlis oleh Allah kepadamu. Jika mereka berkumpul untu membahayakanmu, maka mereka tida akan membahayakanmu kecuali karena sesuatu yang tela ditulis oleh Allah atasmu. Segala beban itu akan dihilangkan dan segala lembaran wahyu.”
6.     Mengajari kontrol motivasi dan emosi.

Semoga dengan kiat-kiat yang dianjurkan oleh Rasulullah dalam haditsnya bisa menjadi metode praktis dalam menanggulangi problematika remaja dan membimbingnya menjadi generasi yangunggul, bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama.
Wallahu a’lam.



[1] Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hal. 133
[2] Wiji Hidayati, Psikologi Perkembangan, (Yogyakarta: Teras, 2008), hal. 142-145
[3] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Thibb An Nabawi, diterjemakan oleh, Abu Firly, Pengobatan Nabi, (Bandung: Jabal, 2012), hal. 144 dan 194
[4] Muhammad Utsman Najati, Psikologi Dalam Perspektif Hadits, (Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, 2004), hal. 257-261

1 komentar: