![]() |
| Marah Mengakibatkan Mental Block |
Kita sering kali mengalami mental block saat sedang marah. Emosi
yang menggebu-gebu membuat diri kita tidak terkendali dalam berperilaku dan
berpikir. Sehingga, sering kali kita lepas kendali dan melakukan tindakan yang
tdak semestinya. Padahal, jika kita kembali pada hadits Nabi Muhammad saw, kita
akan mendapatkan tips atau trik dalam mengendalikan kondisi seperti ini.
Berikut haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Dzar al Ghiffari ra., Rasulullah
saw bersabda:
إذا غضب أحدكم
و هو قائم فليجلس فإن ذهب عنه الغضب و إلا فليضطجع
“Jika
salah seorang di antara kalian marah dan ia dalam posisi berdiri maka hendaknya
ia segera duduk, maka kemarahannya akan hilang. Namun,
jika kemarahan itu tidak
reda, maka hendaknya ia berbaring.” (HR. Ahmad 21348, Abu Daud 4782 dan
perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth)
Bila ditinjau dari perspektif psikologi modern, pesan tersebut seua
dengan salah satu asumsi dasar pada teori Neuro Linguistic Proramming (NLP)
yaitu pikiran dan perbuatan saling mempengaruhi. Maka dari itu, benar kiranya
rasul menganjurkan untuk mengubah posisi. Jika marah sedang dalam keadan
berdiri, maka beregeralah duduk. Jika belum hilang, atau marah dalam keadaan
duduk, maka berbaringlah.
Dengan merubah posisi tubuh seperti itu, kita sebenarnya sedang
berusaha dibawa ke dalam keadaan yang lebih rileks. Sehingga posisi tubuh yang
lebih tenang itu bisa menularkan relaksasinya ke dalam hati dan pikiran. Dengan
rileksasi tersebut, amarah dengan sendirinya bisa hilang sedikit demi sedikit.
Lebih jauhnya lagi bisa saja kita langsung sektika ingat kepada
Allah dengan mengucap “astaghfirullahal ‘azhim” misalnya, atau kalimat apa pun
yang menyadarkan ingatan kita kepada Allah. Bisa juga kita bersegera mengambil
air wudhu’ kemudian shalat. Dengan cara seperti ini, kita bisa sealigus
mengadukan masalah yang sebenarnya terjadi kepada Allah. Karena pada hakikatnya
ingat kepada Tuhan akan menenangkan hati. Sebagaimana firman-Nya.
ألا بذكرالله تطمئن القلوب
Maka dari itu, tetap kendalikan diri kita sekalipun dalam situasi
marah. Karena sesungguhnya marah adalah bagian dari hawa nafsu, dan hawa nafsu
berpotensi menjerumuskan kita pada sesuatu yang tidak baik. Na’udzubillah min
dzalik.
Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar