Islam sebagai
agama yang syumul (mencakup berbagai hal) duniawi dan ukhrowi memberikan
pedoman bagi seluruh umat manusia pada umumnya dan khususnya bagi pemeluknya.
Islam tidak hanya berbicara di seputar koridor agama saja. Maka tidak heran
jika Islam berbicara tentang perihal keduniaan juga, tentunya hal ini bertujuan
agar manusia bisa menjalani kehidupan berdasarkan pada bimbingan yang benar.
Dalam hal ini termasuk juga bidang kesehatan. Yang mana banyak sekali tuntunan agama yang berkenaan dengan kesehatan baik di dalam al Qur’an maupun as Sunnah. Namun sayangnya dewasa ini fasilitas tersebut semakin ditinggalkan oleh manusia dan ironisnya para pemeluk agama Islam sendiri. Di mana mereka lebih memilih untuk berpaling kepada bimbingan kesehatan ala non muslim (barat). Karena kecanggihan mereka dalam teknologi modern sudah mendunia, sehingga mereka mampu mencuri perhatian mata dunia.
Kelengahan
Manusia Dalam Memilih Cara Pengobatan
Pada zaman
ini, tidak bisa dipungkiri lagi pengobatan medis konvensional yang modern lebih
dilirik oleh masyarakat. Bahkan bagi kalangan tertentu pengobatan modern
menjadi bagian dari gaya dan pola hidup yang harus diikuti. Namun sayangnya,
tanpa kecermatan yang mendalam pengobatan modern meninggalkan noda hitam pada
akhirnya. Maksudnya, pola kerja yang dilakukannya tidak sepenuhnya memberikan
solusi melainkan justru menambah penyakit. Hal tersebut diungkapkan langsung
oleh Dr. Paapo Airola, seorang dokter Amerika yang mengatakan bahwa semua obat
kimia yang digunakan dalam pengobatan konvensional menyebabkan efek samping
yang sangat berbahaya. Hal ini juga senada dengan yang dikemukakan oleh Dr.
Ivan Ilich dalam bukunya “Limits to Medicine” (1962) bahwa dunia pengobatan
konvensional ternyata tidak banyak membuat perubahan yang berarti, karena
obat-obatan kimia pada dalam jangka panjang akan menimbulkan efek samping yang berbahaya.
Namun, tetap
saja barat berupaya mengemas produknya agar tidak tergeser oleh yang lainnya,
salah satunya adalah bagaimana mereka menamakan pengobatan di luar produknya
sebagai pengobatan tradisional yang artinya tidak modern sebagaimana milik
mereka, dan pengobatan alternatif artinya pengobatan jalan lain yang ditempuh
bila tidak bisa melalui jalan yang utama yaitu metode mereka itu.
Lantas, jika
seperti itu realitanya, bagaimanakah seharusnya umat manusia dan muslim
khususnya menjaga kesehatannya atau berusaha mengobati penyakitnya ?
Tentunya
menurut hemat saya jalan terbaik adalah dengan cara melakukan pencegahan yang
intensif. Sebagaimana sabda Nabi saw.:
الوقاية خير من
العلاج
“Mencegah
lebih baik dari pada mengobati.”
Maka dari itu,
melalui sunnahnya Rasulullah saw. memberi rekomendasi dan pedoman kepada
umatnya dalam melakukan pencegahan dan pengobatan melalui terapi al Hijamah (bekam).
Al Hijamah
Sebagai Terapi Yang Direkomendasikan Nabi
Di antara
ajaran yang diberikan Rasulullah saw mengenai cara penyembuhan penyakit adalah
dengan melakukan bekam (al hijamah). Sebagamana beliau bersabda:
عن سعيد بن جُبيرٍ، عن ابن عباس، عن
النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم، قال: "الشِّفَاءُ فى ثلاثٍ: شُرْبَةِ عسلٍ،
وشَرْطةِ مِحْجَمٍ، وكَيَّةِ نارٍ، وأنا أنْهى أُمَّتى عن الْكَىّ”[1]
Dari Sa’id bin
Jubair, dari Ibn ‘Abbas, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kesembuhan itu ada
pada tiga hal; minum madu, berbekam, dan terapi besi panas. Namun aku melarang
umatku menggunakan besi panas.”
Bekam adalah
istilah bahasa Indonesia yang berarti membuang darah, dalam bahasa Arab berarti
al hijamah, dalam bahasa Inggris cupping. Bekam sudah dikenal
sejak jauh hari sebelum Rasulullah diutus. Perkembanganya terjadi di Babilonia,
Mesir, Saba, dan Persia. Namun, menurut as Shuyuthi bekam berasal dari Isfahan.
Dan setelahnya Rasul diutus, beliau merekomendasikan terapi hebal dan bekam
(sebagaimana dalam hadits sebelumnya). Maka dari itu biasanya terapis selalu
menganjurkan untuk melakukan kedua terapi tersebut dengan maksud agar
pengobatan bisa dilakukan dari dalam maupun luar.
Prinsip Kerja
Terapi Al Hijamah
Pola kerja terapi
ini melakukan pembuangan darah statis yang ada dan mengendap di tubuh akibat
dari kotoran toksin. Darah statis ini menjadikan sistem peredaran darah dalam
tubuh terhambat. Kemudian darah statis ini mengendap dalam tubuh dan akibatnya
bisa membawa efek fisik seperti mudah sakit maupun psikis seperti tidak mood,
cepat bosan, mudah marah.
Pada dasarnya
prinsip kerja terapi bekam ini terletak pada tiga hal yaitu;
- Detoksifikasi, yaitu meneluarkan racun dari tubuh. Karena pada hakikatnya darah yang dikeluarkan adalah darah kotor yang bercampur dengan racun atau toksin. Racun ini bisa berasal dari makanan dan minuman yang tidak sehat, dan polusi udara. Zat toksin ini terkumpul sedikit demi sedikit dan tidak bisa dibuang melalui urin dan feses karena tidak dapat larut dengan air. Selanjutnya, toksin menjadi radikal bebas yang berpindah-pindah bersama darah sampai mereka menumpuk di jaringan lemak dibawah lapisan kulit. Keberadaannya mengganggu organ tubuh, bahkan beberapa jenis racun bisa mengakibatkan penyakit yang lebih parah. Maka, dengan bekam toksin terseut bisa keluar bersama darah dan karenanya terlihat gelap dan mudah menggumpal.
- Merangsang zat antibodi. Setelah proses bekam, jaringan ulit yang rusak mengalami perusakan. Perusakan ini direspon tubuh dengan memproduksi zat antibodi tubuh agar tidak terjadi infeksi. Lokasi pembekaman ini sejatinya terhubung dengan organ tertentu dan zat anti bodi ikut mengobati organ yang bersangkutan tersebut. Hal ini juga sama dengan prinsip kerja pada teknik akupuntur. Akibatnya, kuman patogen yang menyebabkan sakit pada organ tersebut terbasmi oleh antibodi dan organ bisa berfungsi lebih baik lagi.
- Merangsang hormon regenerasi sel. Fungsi ini mirip dengan fungsi kedua, namun yang dilakukan oleh hormon regenerasi sel ini ialah memperbaiki sel rusak pada organ yang sakit.
Adapun
beberapa jenis penyakit dan gangguan organ tubuh yang bisa diterapi dengan
metode al Hijamah ini antara lain: sakit kepala, leher, gigi, hidung,
tenggorokan, rabun, limpa, asma, lever, hipertensi, diabetes, wasir, dan
lain-lain. Bahkan dalam sebuah hadits bekam bisa menyembuhkan tujuh puluh dua
penyakit.[2]
Menjadi Orang
Sehat dan Orang Sakit Yang Bijak
Sehat merupakan salah satu nugerah
yang berharga, terlebih sangat diharapkan ketika kita sedang dalam keadaan
sakit. Maka dari itu, semua orang harus bersikap bijak dalam memperhatikan
kesehatan dirinya sendiri, di mana kita harus mampu mejaga kesehatan dengan
baik dengan cara mencegah berbagai hal yang bisa mengundang penyakit. Dan
selain itu, ketika penyakit datang hendaklah juga bersikap bijak dengan cara
memilih cara pengobatan yang efektif dan tidak meninggalkan efek samping yang
lebih parah lagi
[1]صحيح البخاري في كتاب الطب باب الشِّفَاءُ فى ثلاثٍ
[2]
Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ath Thibb An Nabawi, diterjemahkan oleh, Abu
Firly, Pengobatan Nabi, (Bandung: Jabal, 2012), hal. 46
Tidak ada komentar:
Posting Komentar